05 April, 2018

Renungan Usia 35 tahun (Hijriyah)

Aku ikut kajian melingkar sejak SMA dulu sewaktu masih seneng2nya maen bola, seneng2nya maen PS, seneng2nya ngelirik2 lawan jenis. Dan alhamdulillah  liqo berhasil membuatku tidak ikut membaur dengan pergaulan2 bebas sewaktu SMA. Temen SMA ku dulu ada yang terjerat miras lah, terlibat ganti2 pacaran lah, suka mbolos sekolah lah, ngerokok apalagi. Sebaliknya aku ikut kajian selepas sekolah, ikut istirahat di masjid pada saat jam istirahat, ikut maen bola bersama temen2 kajian selepas pulang sekolah ataupun pada hari ahad. Semua itu membuatku tidak ikut2an temen2 sekelas yang ngajakin nonton bioskop lah, ngajakin pacaran, ngajakin ngemall, dan laennya. Mungkin yang kusesali adalah dulu masih sering maen Play Station sepulang sekolah, waktu dan uang yang terbuang sia2 kala itu menurutku. Jaman SMA pula aku merasa ada beberapa cewek yang mendekatiku (Ge eR banget), tapi yah kerasa lah dikit2,...haha, namun entah mengapa alhamdulillah aku tidak sampai ke geer an untuk mendekati balik cewek itu, mungkin ini juga hasil dari pengajaran kakak2 kelasku ketika liqo dan mungkin juga karena aku orangnya polos dan cuek, jadi ngerasa gak penting aja gitu buat pacar2an. ALhamdulillah juga Allah mengaruniakan kepadaku wajah yang gak terlalu ganteng dan badan yang gak terlalu seterek, jadi aku tau diri lah buat gak ikut2an geng2 orang2 ganteng dan kaya..haha..
Liqo ini berlanjut ke jaman kuliah di Jogja, beberapa bulan liqo berjalan murobbiku menawarkan aku untuk mengelola liqo sendiri...tapi aku selalu menolak dengan berbagai alasan, padahal mah males..hehe...jadilah selama 4,5 tahun kuliah aku gak pernah mengelola liqo..hehe
Setelah lulus kuliah dan bekerja di denpasar aku juga ikut Liqo disana, dan murobbikupun sama menawarkan kepadaku mengelola liqo..dan berhasil kutolak juga dengan berbagai alasan..hehe... Dan sempat aku juga diamanahkan sebagai anggota tim Partai di DPC Denpasar, dan alhamdulillah aku ikut beberapa kegiatan kepartaian disana. Namun setelah 4 tahun di Denpasar, 1 tahun di Kupang akupun pindah ke Lombok. 

Di pulau ini akupun mulai mengikuti pengajian2 sunnah bersama ustadz2 yang menurutku ramah dan murah senyum. Sebenernya aku sempat juga ikutan di Denpasar karena ada kajian di kantor, tapi awalnya hatiku menolak apa yang disampaikan Ustadznya, karena kok bertentangan dengan ilmu yang selama ini aku ketahui. seperti tahlilan tidak boleh, zikir selepas sholat tidak dilakukan dengan suara keras, baca Yasin khususon di malam jum'at tidak boleh dan berbagai hal lainnya. Hal2 yang menurutku baru ini sempat menjauhkan aku dari kajian2 sunnah tersebut. Terlebih lagi ada beberapa testimoni dari temen2 partaiku bahwa hati2 dengan kajian tersebut karena suka membid'ah2kan orang lain. Nah bid'ah? apalagi ini, sebuah kosa kata baru yang baru aku dengar dari temanku itu. Akhirnya berjalan beberapa waktu akupun pindah ke lombok, disini aku mulai menjauhkan diri dari liqo di tahun pertama walopun pada tahun kedua dan tiga aku akhirnya ikut liqo karena rekomendasi dari om ku. Di tahun ketiga aku mulai menghadiri kajian2 sunnah walopun masih sangat jarang sekali sebulan sekali bahkan mungkin 2 bulan sekali, sambil rutin menghadiri liqo pekanan. 

Dan puncaknya ketika aku pindah ke Soreang aku mulai berani benar2 stop dari liqo walopun beberapa kali om ku menanyakan bagaimana liqo pekanan sudah sama siapa?. Mungkin aku benar2 berani dan PeDe dengan diriku sendiri di Soreang, seolah aku menemukan bahwa diriku bukan lagi seorang manusia yang tergantung pada perkataan orang lain. Sebelum ini aku adalah orang yang sangat BaPer an, perkataan dari orangtuaku terutama tentang pengajian sunnah ini selalu kumasukkan ke dalam hati, perkataan om ku yang merekomendasikan ke liqo waktu di lombok aku juga bawa ke hati dan aku turuti. Perkataan orang2 lain yang "memusuhi" dakwah sunnah ini selalu aku masukkan ke dalam hati. Namun hadirnya kajian2 sunnah di Youtube, di media sosial, di masjid2 terutama di Soreang ini membuatku menemukan hakikat yang sesungguhnya, bahwa Islam adalah agama Ilmiah yang berdasarkan pada dalil dan pemahaman para penerima dalil itu. Materi tentang akhlak dan tauhid menjadi fokus ku, kalo sebelumnya aku beribadah yah ikut2an apa yang dilakukan orang lain namun sekarang aku baru mengerti bahwa sholat itu seperti ini, shaum itu seperti ini,dan ibadah2 yang lain. Dan tauhid dan akhlak adalah kunci segalanya. Alhamdulillah ya Allah

Mungkin ini hikmahnya yang baru aku sadari di usia yang hampir menyentuh usia matang menurut Rasulullah Sallahu alaihi wasallam. Dulu aku tidak terlalu dalam ikut kajian kepartaian, sehingga membuatku gampang sekali keluar dari sana tanpa ada beban yang memberatkanku. Padahal aku ikut disana sejak SMA, sampai tahun lalu, sekitar 16 tahunan aku ikutan Liqo.

Dan sekarang semoga Allah memudahkanku untuk istiqomah di jalan dakwah sunnah ini, aku bersyukur sewa rumah di TKK yang diisi tetangga yang bermanhaj sunnah salaf yang mengingatkanku untuk terus kuat dan tegar di jalan ini. Alhamdulillah

No comments:

Post a Comment

Ayo ayo sobat sobat dikomentarin ya....
kalo istilah iklannya sih "komentarmu mengalihkan duniaku" kekekeke....

Arsip Blog

Sahabat Blogger

Sahabatku