07 October, 2009

Mudik To zER0

Mudik..mungkin sudah menjadi budaya penduduk Indonesia. Bentuk geografis yang berpulau - pulau dan tidak meratanya pembangunan masing - masing wilayah 'memaksa' penduduk Indonesia mudik. Loh kok bisa??... karena tidak meratanya pembangunan dan perekonomian di semua wilayah Indonesia maka banyak dari penduduk yang wilayahnya kurang 'basah' bermigrasi ke daerah yang 'basah'. Daerah - daerah yang basah biasanya berupa kota besar, dan mau nggak mau kita harus menuju kota besar itu untuk menjemput rezeki kita. Kita bisa saja beranggapan bahwa ngapain sih ke kota, lha wong di desa saja dengan bercocok tanam sudah pasti kita bisa berkecukupan. Tapi jarang sekali yang puas hanya dengan kehidupan yang seperti itu. Sudah menjadi sifat dasar manusia ketidakpuasan terhadap keadaan menjadikan kita mencar dan terus mencari sampai ke ujung dunia manapun bahkan ke luar negri. Atau kalopun tidak untuk mencari kerja paling tidak untuk belajar. Ketidakmerataan pembangunan tadi juga didukung dengan ketidakmerataan kualitas pendidikan di masing - masing daerah. Sehingga ini mendorong kita untuk merantau ke negri orang hanya untuk belajar mencari ilmu.

Tapi kali ini saya nggak mau membicarakan tentang mudik secara bahasa ataupun secara harfiah ataupun secara kajian mendalam tentang makna mudik. Saya hanya ingin share pengalaman mudik saya kemarin...hehehe..

Awalnya tidak ada rencana saya untuk mudik pada lebaran tahun ini, dan bahkan mertua sudah menyatakan akan berlebaran di pulau dewata ini. Tapi apa daya cobaan dari Allah itu datang tiba - tiba. Seketika istri saya mengalami keguguran yang sangat cepat sekali prosesnya, tanpa kesakitan tanpa kesusahan. Jadilah pikiran pendek saya berproses dan memutuskan untuk mudik. Karena sangat berbahaya dikala keadaan saya dan istri saya yang sangat shock ini menanggung stress ini berdua saja. Saya harus mudik bersama istri saya sekarang juga "pikir saya waktu itu". Saya yakin istri sayapun akan setuju dengan hal ini karena memang pikiran kami masing - masing sudah penuh stres dan kejenuhan di pulau dewata ini. Jika antara kami saling memberi nasehat mungkin akan terasa hambar, karena kami berdua sudah jenuh, jika menunggu mertua masih akan datang seminggu lagi. Kamipun....pulaaanngggg kampungggg...

Sebenarnya saya sangat bersyukur bisa mudik kali ini, karena ternyata papa berencana pulang kampung juga ke desanya dilahirkan. Dan tau nggak desa itu juga sudah saya rindukan sejak lama. Kira - kira 10 tahun yang lalu saya terakhir berkunjung ke desa kelahiran papa tersebut...subhanallah ada kerinduan yang dalam ketika mengingat desa itu. Tapi sebelum itu intermezzo dulu ahh..hehehe...kami mengalami cobaan tanggal 14 september pukul 10.30 WITA, sekitar pukul 15.00 kami sudah memesan tiket untuk tanggal 16 pukul 12.20 WITA DPS-CGK. Tanggal 16 pukul 13.05 kami sampai di CGK lalu dengan menumpang travel Xtrans langsung menuju rumah mertua di seputaran Serpong. Pukul 14.30 Alhamdulillah kami sampai di rumah mertua, sebenarnya ada perasaan bersalah ketika bertemu mereka karena uang yang sudah mereka belikan tiket untuk 3 orang melayang begitu saja tanpa ada kompensasi apa-apa. Tapi alhamdulillah papa mertua adalah orang yang paling ikhlas yang pernah saya temui. lebih ikhlas dari ibu saya yang juga terkenal ikhlas dan penyabar. Lalu kamipun menginap semalam dan keesokan harinya kami akan menyebrang ke pulau Sumatera di seputaran Sukarame, Bandar Lampung tepatnya di rumah saya..atau mertua dari istri saya...hehe...kok muter2 sih...wkwkwkwk... Perjalanan dari Serpong menuju Bandar Lampung kira-kira 6-7 jam jika tidak mengantri di pelabuhan Merak dan Bakauheni. Serpong - Merak = 2-3 jam, Merak - Bakauheni = 2.5 - 3 jam dengan ferry atau 1 jam dengan kapal cepat, Bakauheni - Bandar Lampung = 2-3 jam. Kami sampai di Sukarame sekitar jam 18.30 WIB tanggal 17 Sept 09...















Alhamdulillah. Kami menginap 2 malam sebelum pagi pukul 06.00 WIB tanggal 19 September 2009 kami bertolak dari rumah menuju desa kelahiran papa dengan menggunakan mobil sendiri. Desa itu letaknya sudah masuk wilayah Sumatera Selatan kira - kira 9 jam perjalanan darat ke utara dari bandar lampung. Bandar Lampung - Martapura giliran aku yang menyetir. Dan dari Martapura - Muaradua - Tanjung Bulan - desa kelahiran papa, papa yang menyetir.

Sekitar pukul 14.00 kamipun sampai di desa kelahiran papa...




MUARA SINDANG namanya, sebenarnya kelahiran papa ada di ulu danau tidak jauh di utara muara sindang. Tapi di muara sindanglah papa tumbuh dan besar. Ada yang berbeda dari desa ini sekarang, selain perubahan kabupaten menjadi Oku Selatan yang dulunya OKU melainkan juga banyaknya motor yang dikendarai anak muda di desa ini.. Alhamdulillah desa ini semakin maju dari semenjak aku tinggalkan sepuluh tahun yang lalu. Selain itu di desa ini juga sudah terbangun dua buah jembatan perpaduan kayu dan besi yang dibuat pemerintah kabupaten yang diusulkan oleh Mamak Mulyadi yang juga masih kerabatku. Beliau adalah anak dari adik kakek kandungku, makanya kami memanggilnya Mamak. Papa juga banyak bercerita tentang beliau, bahwa dulu pernah sebuah kecelakaan bus yang hebat hampir merenggut nyawanya. Kepalanya sudah bukan bocor lagi tetapi bisa dibilang terbelah di bagian depan entah terkena apa. Beliau harus menjalani perawatan selama beberapa bulan untuk pemulihan, dan ajaibnya beliau hidup dengan normal kembali..Allah belum memanggilnya kembali..Subhanallah..Allahuakbar. Waktu itu beliau masih menjabat sebagai kepala desa Muara Sindang dan mengusulkan pembuatan jembatan yang menghubungkan antara muara sindang dengan gunung di sebelahnya yang mana banyak kebun dan sawah dari penduduk muara sindang berada di balik gunung tersebut. Lalu beliaupun resign untuk mencari ketenangan hidup.


Kembali ke Muara Sindang...walaupun di desa ini sudah maju layaknya di kota tetapi ada satu hal yang membuat saya takjub dan inilah salah satu bagian terbaik dari desa ini...hal itu adalah....:


SUNGAINYA....




KERAMAHAN PENDUDUK A.K.A KELUARGA


DAN JEMBATANNYA (THE LATEST ONE)





Semua elemen - elemen itu menyatu dalam diriku dan membuat stres yang kudapat sebelum ini lenyap seketika. Tidak ada lagi stres karena pekerjaan, stres karena mengharapkan keturunan, stres karena pergaulan, stres karena kebutuhan yang mendesak, stres karena cita - cita yang belum tercapai, stres karena gengsi...semuanya kembali menjadi nol besar...Alhamdulillah. Dan Allah tunjukkan lewat penduduk Muara Sindang bahwa hidup harus terus maju walaupun keterbatasan dan kesusahan. Hidup harus terus maju walau jauh dari sinyal (belum ada sinyal operator manapun nih di sini). Dan hidup itu indah tergantung dari pikiran kita yang indah. Ditambah dengan cerita masa kecil papa yang menunjukkan bagaimana semangat juang untuk terus maju mampu mengantarkan dirinya dan keluarganya menuju kesejahteraan. Dengan semangat itu papa mampu menghajikan mertuanya dan sebentar lagi menghajikan kakaknya insya Allah. Papa tunjukkan itu kepadaku.

4 malam 3 hari di Muara Sindang membuatku kembali NOL, dan siap mengarungi keras dan derasnya kehidupan selanjutnya. Aku ingin seperti batu yang berada di tengah sungai yang dipakai papa sholat diatasnya, sejak 10 tahun lalu sampai sekarang masih kokoh berdiri di sungai itu walaupun diterjang deras dan kerasnya arus sungai dan juga diinjak - injak banyak orang.




Lalu papa dan mama memotivasi...
REZA MASIH SEMANGAT KHAN????


Akupun menjawab :


SIAP SEMANGAT
ALLAHUAKBAR !!!






4 comments:

  1. asli muara sindang y bang??? klihatannya asri bngets tu... pasti segerr

    dr pusat gempa kemarin2 pasti jauh ya??

    Innalillahi... musibah lagi, korban lagi, derita lagi. smga msibah tu benar2 musibah n ujian. smg para korban diberikan ktabahan n ksabaran, jg smga diganti dgn yg lebih baik

    ReplyDelete
  2. Mau pulang kampung lagi ga' nich kayaknya seneng banget kumpul keluarga, kayaknya kurang satu, adiknya kemana ya

    ReplyDelete
  3. mau dong bu..hehehe..
    temennya mama ya bu...?

    kalo ibu kampungnya dmn?

    ReplyDelete
  4. waduh kayaknya pernah kesini nih,, kapan yah? jadi lupa akuh...hohoho

    ReplyDelete

Ayo ayo sobat sobat dikomentarin ya....
kalo istilah iklannya sih "komentarmu mengalihkan duniaku" kekekeke....

Arsip Blog

Sahabat Blogger

Sahabatku